Selasa, 10 Januari 2012

==Kehidupan Yang Merdeka==


“Merdeka atau mati?!”

Pernah dengar seruan seperti itu? Pasti pernah donk ya. Apalagi kalau kita pernah belajar tentang sejarah perjuangan para pahlawan Indonesia. Mereka mempunyai prinsip dalam perjuangan mereka adalah merdeka atau mati. Pilihannya hanya 2, para pahlawan mati atau berjuang terus untuk kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Coba dipikirkan, kita maunya merdeka atau mati? Pastinya mau merdeka, karena kematian itu digambarkan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Kematian berarti tidak hidup lagi, hilang nyawa. Merdeka berarti bebas dari tekanan, bebas dari penjajahan, tidak terikat.
Sekarang Indonesia sudah berada dalam situasi merdeka dari penjajah. Kita juga merayakan hari kemerdekaan Bangsa Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Apa yang bisa kita renungkan dari kemerdekaan Indonesia? Bagaimana dengan diri kita, apakah kita sudah menjadi manusia yang merdeka? Merdeka dari apa?
Kita harus merdeka dari dosa sehingga dari kemerdekaan itu kita memperoleh kehidupan. Kita akan sama-sama melihat dari Roma 8:1-14.
Hidup kita dahulu adalah di dalam dosa, ada dosa asal yang kita sandang dari lahir. Karena dosa itulah kita akan mati. Kita hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging, hidup berseteru dengan Allah, tidak berkenan kepada Allah dan berujung kepada maut. Beberapa perbuatan daging dijabarkan pada Galatia 5:19-21a yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, … dan sebagainya. Jadi bagaimana kita bisa merdeka?
Tuhan memberikan jalan keluar yang terindah melalui Anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus. Yesus diutus oleh Bapa-Nya untuk datang ke dunia menjadi sama dengan manusia (namun Ia tidak berdosa) supaya hukuman dosa yang seharusnya kita tanggung, ditanggung oleh Yesus Kristus. Jadi kita sudah dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut. Sekarang yang menjadi bagian kita adalah kita mengaku dengan mulut kita bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan percaya dalam hati bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat kita (Roma 10:9).
Namun tidak sampai disitu saja, Tuhan juga memateraikan kita dengan Roh Kudus (Efesus 1:13b). Roh Kudus diam di dalam hidup kita, sehingga kita tidak lagi hidup menurut daging melainkan menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh sehingga kita hidup dan merasakan damai sejahtera. Kita juga harus hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Bagaimana hidup dipimpin oleh Roh Kudus? Bagaimana kita bisa dipimpin oleh Roh Kudus?
Hidup dipimpin oleh Roh Kudus adalah hidup yang taat kepada Dia karena apa yang Dia katakan adalah kebenaran semata. Jadi, kita harus mengadakan pesekutuan dengan Dia melalui doa dan pembacaan Firman Tuhan setiap hari sehingga kita mengetahui kebenaran. Pada akhirnya yang keluar dari hidup kita adalah buah Roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22-23a). 

(J)

~Ajarlah Kami Menghitung Hari-Hari~


Mazmur 90:12
Ajarlah kami menghitung hari-hari
kami sedemikian,
            hingga kami beroleh hati yang
            bijaksana.

Ajarlah kami
Ajarlah akar katanya adalah ajar. Ajar menurut kamus bahasa Indonesia berarti petunjuk yang diberikan agar seseorang mau menuruti (mengetahui sesuatu). Tambahan akhiran -lah, menurut kamus bahasa Indonesia, berfungsi menegaskan kata kerja dan mengandung makna perintah (meminta, red.). Jadi kalau digabungkan, dengan memakai kata-kata sendiri, ajarlah bermakna memerintahkan (meminta, red.) kepada seseorang supaya memberikan petunjuk untuk dituruti.
Dalam ayat ini, ajarlah kami, berarti meminta Tuhan memberikan petunjuk untuk kita semua turuti. Kita dalam hal ini juga dengan rela hati memberikan diri untuk diajar oleh Tuhan. Yang diperlukan untuk mau diajar adalah kerendahan hati, karena tanpa kerendahan hati, kita akan bisa diajar, karena diajar adalah menuruti apa yang diajarkan oleh orang yang mengajar, dalam hal ini adalah Tuhan.

Menghitung
Menghitung akar katanya adalah hitung. Hitung dalam kamus bahasa Indonesia berarti membilang termasuk menjumlah, membagi, mengalikan. Awalam me- di sini mengandung makna melakukan. Menghitung disini bermakna melakukan pembilangan, perhitungan. Kata kerja yang terbentuk adalah kata kerja aktif. Jadi menghitung ini diperlukan peran aktif dari objek, yaitu kita.

Hari-hari kami
Hari, salah satu arti menurut kamus bahasa Indonesia adalah waktu antara pagi sampai pagi lagi (24 jam). Pengulangan kata hari disini kalau ditelaah mengandung makna banyak, bukan hanya satu hari saja. Satu hari terdiri dari 24 jam, 1.440 menit, 86.400 detik. Kalau hari-hari akan membentuk satu tahun (365-366 hari), dua tahun (730-732 hari), tiga tahun (1.095-1.098 hari) dan seterusnya. Wow, kalau dilihat dari angka-angka yang ada, ternyata satu hari itu bisa dipecah jadi bentuk yang lebih kecil tapi besar angkanya, dan satu hari juga bisa digabungkan jadi bentuk yang lebih besar dengan angka yang bertambah besar juga.

Sedemikian
Kata sedemikian disini merupakan kata bilangan tak tentu, yaitu kata bilangan yang menyatakan jumlah sesuatu (benda) yang tak tentu.

"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian" dimaknai permintaan kepada Tuhan untuk kita dapat membilang (menghitung) jam, menit, detik, tahun kita yang tidak tidak tentu, tidak ada batasannya. Jadi karena hari kita tidaklah terbatas, maka kita harus mempergunakan hari-hari kita dengan sebaik-baiknya, hati-hati. Karena kita tidak bisa bergerak sendiri, maka kita minta kepada Tuhan untuk mengajar kita,  bukan langsung bisa, tapi diajar. Pelan-pelan, dari hari ke hari, langkah demi langkah. Dengan kita diajar dari hari ke hari maka kita bisa menghitung hari-hari kita sedemikian, kita bisa mengetahui apakah kita mempergunakan waktu kita dengan maksimal, dengan baik, dengan sungguh-sungguh, dengan benar atau kita malah menggunakan waktu kita untuk hal-hal yang tidak berguna dan malah hanya mengerjakan apa yang tidak benar di mata Tuhan. Kita juga diajar untuk menghitung berkat yang sudah Tuhan berikan untuk kita. Maka sekali lagi ditekankan kita harus minta Tuhan untuk mengajar kita, kita pun harus mempunyai hati yang mau diajar oleh Tuhan agar kita dapat menggunakan hari-hari kita untuk kemuliaan nama Tuhan.

Hingga kami beroleh
Hingga menurut kamus bahasa Indonesia artinya adalah sampai, sampai menjadi. Hingga juga merupakan kata sambung yang menyatakan sebab dan akibat. Kada 'hingga' disini menyambungkan antara kalimat sebelumnya dengan kalimat setelahnya.
Beroleh kata dasarnya adalah oleh, yang merupakan kata depan, karena ditambah dengan awalan ber- maka menjadi kata kerja. Beroleh artinya menerima, mendapatkan, boleh, dapat. Kalau digabung 'hingga kami beroleh' berarti sampai kami menerima, mendapatkan; sesuatu sampai diterima/didapatkan akibat dari "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian".

Hati yang bijaksana
Hati disini bukan menunjuk kepada organ tubuh manusia, tetapi hati disini menunjuk kepada sesatu yang dimiliki manusia sebagai tempat perasaan, batin. Batin itu sendiri dalam kamus bahasa Indonesia menunjuk kepada sesatu yang berkaitan dengan perasaan hati, semangat, ruh.
Bijaksana merupakan kata sifat yang artinya menurut kamus bahasa Indonesia adalah selalu menggunakan akalnya dalam menghadapi atau memecahkan masalah, selalu menggunakan akal budinya, selalu mengandalkan pikirannya yang berilmu; tajam pikiran, pandai, arif, selalu cermat dan tidak emosional dalam menghadapi atau memecahkan suatu masalah.
Berarti hati yang bijaksana adalah perasaan kita yang cermat, arif, yang tidak emosional dalam menghadapi atau memecahkan masalah. Dalam kata lain, batin kita dibaharui untuk bertindak hati-hati.

Kesimpulan
Ajarlah kami menghitung hari-hari
kami sedemikian,
            hingga kami beroleh hati yang
            bijaksana.

Mintalah kepada Tuhan supaya memberikan petunjuk kepada kita untuk kita dapat menghitung hari-hari kita, setiap waktunya dalam hidup kita. Kita tidak menggunakan waktu yang ada untuk hal-hal yang tidak memuliakan Tuhan, melainkan melakukan perbuatan sesuai dengan petunjuk yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Itu semua mengakibatkan kita sampai menerima/mendapatkan batin yang arif, cermat, tidak emosional. Batin yang dibaharui dari hari ke hari sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan dan hidup kita dipimpin terus oleh Roh Tuhan.


(J) 10-11 Agustus 2009

Ajar Kami Menghitung Hari-Hari Kami

Mazmur 90:12
Ajarlah kami menghitung hari-hari
kami sedemikian,
            hingga kami beroleh hati yang
            bijaksana.

Ajarlah aku menghitung hari-hariku sedemikian.
Hari-hari.
Ajar aku Tuhan untuk menghitung setiap jam, setiap menit, setiap detik dalam hariku.
Ajar aku Tuhan untuk menghitung setiap waktu dalam hariku.
Ajar aku Tuhan untuk menghitung setiap langkah dalam hariku.
Ajar aku Tuhan untuk menghitung yang sudah aku lakukan dalam hariku.
Ajar aku Tuhan untuk menghitung yang akan aku lakukan dalam hariku.
Ajar aku Tuhan untuk menghitung berkat yang sudah Kau berikan dalam hariku.
Ajar aku Tuhan untuk menghitung anugerahMu dalam hariku.
Ajar aku Tuhan untuk menghitung hari-hariku sedemikian.

Hingga aku beroleh hati yang bijaksana.
Hati bijaksana.
Apabila aku memakai hariku dengan baik.
Apabila aku memakai hariku dengan berguna.
Apabila aku memakai hariku dengan memberkati.
Apabila aku memakai hariku dengan menabur kebaikan.
Apabila aku memakai hariku dengan sukacita.
Apabila aku memakai hariku dengan sungguh-sungguh.
Apabila aku memakai hariku dengan tidak sembarangan.
Apabila aku memakai hariku dengan bijaksana.

Pada akhirnya,
Aku akan memperoleh hati yang bijaksana
karena aku mempergunakan hari-hariku dengan baik,
untuk sesuatu yang berguna,
untuk sesuatu yang membawa berkat.

Ajar aku menghitung hari-hariku sedemikian,
Hingga aku beroleh hati yang bijaksana.

(J) 2009

~Ajar Aku Tuhan~


Satu hari di hari Minggu saya datang ke gereja dan saya duduk di belakang seorang oma. Saya amati dia... saya kenal dia... rambutnya putih, kulitnya sudah keriput, badannya sudah agak membungkuk, dan memakai baju hangat karena mungkin sudah tidak tahan dengan angin yang dikeluarkan AC. Oma itu rajin datang ke gereja, dia akan duduk di bangku deretan depan dari awal ibadah sampai akhir dia tetep di tempatnya. Semangatnya luar biasa untuk datang beribadah. Namun saya melihat dia kelihatan semakin tua. Ya mungkin hari ke hari dia semakin menua.
Saya merenung... semakin hari saya juga akan semakin bertambah umur dan semakin tua. Saya jadi ingat Firman Tuhan yang berbunyi “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan:sebab berlalunya buru-buru dan kami melayang lenyap.” Seingat saya Firman itu ada di dalam Mazmur 90. Saya langsung membuka Alkitab dan benar memang ada di pasal tersebut pada ayat sepuluh.
Saya tertegun, ternyata masa hidup saya adalah tujuh puluh tahun, kalau kuat delapan puluh tahun dan kalau lebih dari itu adalah bonus dari Tuhan. Saya berpikir, “Ah, oma itu sudah berumur 70 tahun. Rambutnya sudah memutih dan pastinya sudah banyak pengalaman yang dia telah lalui. Sepertinya oma itu sedang menghitung hari-harinya supaya setiap hari yang dijalani semakin berarti  dan indah di dalam Tuhan.
Saya membaca ayat selanjutnya dari Mazmur 90 ayat 11. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Wah ternyata saya harus menghitung hari-hari saya. Waktu terus berjalan, hari terus berlalu, tanpa bisa dihentikan atau diputar ulang dan tanpa terasa umur saya terus bertambah. Pada akhirnya saya akan mencapai waktu akhir saya.
Saya bertanya-tanya dalam hati, “Apa yang harus saya lakukan supaya saya dapat menggunakan hari-hari saya dengan bijaksana? Sehingga hari-hari yang saya lalui sangat berarti?” Saya diingatkan dengan Firman Tuhan dari Efesus 5:15-17. Saya buka Alkitab saya lagi, saya baca... “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”
Hmmm... saya harus mengunakan waktu-waktu yang ada dengan hidup seperti orang arif, yaitu dengan mengerti kehendak Tuhan. Bagaimana saya dapat mengerti kehendak Tuhan? Saya harus mengenal isi hati Tuhan. How? Berkomunikasi dengan Tuhan. Dilakukan dengan cara bersekutu tiap hari dengan doa dan 4M Firman Tuhan. Kapan? Mulai dari sekarang sehingga setiap hari saya lebih berharga dan dipergunakan untuk kemuliaan Tuhan. (J)

Selasa, 02 Agustus 2011

"Selamat Ulang Tahun"


“Siapa yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun ni?”

Seorang teman bertanya kepada saya pada saat saya berulang tahun. Pastinya teman saya  mengucapkan kata-kata itu dengan nada bergurau. Dia ingin meledek saya, karena dia ingin jawaban dari saya bahwa yang mengucapkan selamat ulang tahun pertama kali kepada saya adalah seseorang yang spesial. Saya hanya menjawab, “Mau tau aja deh.” Hahahaha...
Pada saat saya berulang tahun, pukul 00.00 tepat pasti ada saja teman yang menelepon atau memberi SMS (Short Masages Service). SMS tidak hentinya masuk ke Handphone saya dari jam 12 pagi sampai jam 12 malam berikutnya. Namun sering HP saya ‘silent’ pada saat memasuki jam 12 pagi. Saya mengambil sikap berdoa. Saya ingin sekali yang mengucapkan ulang tahun pertama kali kepada saya adalah Tuhan Yesus. Saya menyembah dan berdoa, menaikan doa-doa yang menjadi harapan saya untuk tahun ke depan. Tidak lupa pula saya membuka Firman Tuhan. Saya membaca beberapa ayat Firman Tuhan yang saya anggap sebagai hadiah ulang tahun dari Tuhan Yesus.
Saya sangat terkesan pada saat saya berulang tahun ke-20, saya mendapatkan hadiah dari Tuhan berupa ayat Firman Tuhan dari Amsal 4:1-13. Disitu terdapat ayat-ayat hikmat Salomo yang memberikan nasihat kepada saya. Saya baca berulang-ulang dan saya catat nasihat itu di dalam buku catatan. Saya merenungkan Firman itu lagi, juga mendoakan Firman itu supaya saya diberi kekuatan untuk melakukan Firman itu. Saya mungkin tidur sampai larut pagi tapi saya mendapatkan hadiah yang luar biasa dari Tuhan.
Untuk seterusnya saya melalakukan hal yang sama setiap saya berulang tahun. Saya memberikan waktu untuk Tuhan memberikan ucapan dan hadiah pertama kali. Sebelum saya tidur saya meluangkan waktu sebentar untuk melihat Handphone. Sudah ada beberapa teman yang SMS. Melihat SMS dari teman-teman saya, saya pun sangat senang sekali, menandakan mereka mengingat ulang tahun saya. Saya juga bersyukur mempunyai teman-teman yang memperhatikan dan dalam hati saya berdoa untuk teman-teman saya.
Jadi, kalau ada teman saya yang menanyakan siapa yang pertama kali mengucapakan ulang tahun, pastinya akan saya jawab Tuhan Yesus Kristus donk.

“Permulaan hikamt ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian” Amsal 4:7













Panggilan Bekerja



Setelah lulus kuliah, saya mempunyai angan-angan yang ideal, menjadi pekerja profesional sesuai bidang yang saya pelajari di universitas. Saya banyak memasukan aplikasi pada beberapa perusahaan penyalur tenaga kerja dan melalui media internet. Saya berkeyakinan akan mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan, pekerjaan yang menjanjikan gaji tinggi, fasilitas yang memadai dan bonus besar.
Suatu saat saya dipanggil untuk interview di salah satu galeri. Saya ditawari untuk menjadi staff kantor galeri tersebut. Saya jalani waktu interview dan test kemudian saya diminta untuk menunggu beberapa hari lagi, apabila diterima maka akan dikabari. Saya tunggu beberapa hari, namun tidak juga ada kabar. Pada saat itu ada tawaran untuk bekerja di suatu perusahaan yang sama sekali tidak saya bayangkan. Pekerjaan yang ditawarkan pun tidak sesuai dengan bidang yang saya pelajari. Gaji juga tidaklah memadai, sangat minim malah. Namun karena semangat ‘fresh graduate’ maka saya terima pekerjaan itu. Saya hanya berpikir “Daripada tidak ada pekerjaan, lebih baik saya kerja dulu, baru saya akan cari pekerjaan lain.”.
Bekerja di tempat tersebut sangalah berbeda dari angan-angan saya. Tidak ada fasilitas, tidak ada jenjang karir, tidak ada bonus. Saya juga harus belajar lagi dari awal, karena yang saya kerjakan adalah hal yang baru bagi saya. Saya tidak pernah dengar, lakukan atau pelajari sebelumnya. Saya tetap bersemangat untuk belajar. Lama-kelamaan saya menyukai bidang pekerjaan saya. Apalagi bidang pekerjaan saya hampir sama dengan pasangan saya dan pasangan saya mempunyai visi untuk membangun perusahaan dalam bidang yang saya dan dia tekuni.
Namun tetap saja saya sering mengeluh, kenapa gajinya sangat kecil, bos juga tidak menyenangkan, rasanya tidak sesuai antara waktu kerja dengan pendapatan saya, gaji juga tidak setiap tahun naik. Hmmm... rasanya mau marah. Dan setelah saya bekerja beberapa tahun, saya dipindah bagian oleh bos tanpa alasan yang jelas, tanpa ada kenaikan gaji. Saya geram dan tidak tahu harus berbuat apa.
Saya berdoa dan banyak orang yang menguatkan saya. Mereka semua bilang, “Tuhan menempatkan kamu di perusahaan itu untuk kamu belajar. Dan kalau dipindah bagian, itu juga rencana Tuhan buat kamu untuk kamu tahu lebih banyak. Jadi kamu bisa bantu suami kamu kalau nanti perusahaannya sudah berdiri.” Saya renungkan kata-kata itu dan saya berdoa terus kepada Tuhan, walaupun dengan sedikit mengeluh. Namun akhirnya saya menyadari, semua ini ada di dalam rencana Tuhan yang indah. Saya memutuskan untuk menekuni bidang ini, saya bertanya sebanyak-banyaknya kepada atasan saya, saya pelajari seluk-beluknya.
Saya menyukai pekerjaan saya, walaupun pastinya banyak tantangan dan permasalahan, tapi tantangan dan permasalahan tersebut membuat saya semakin mengerti. Saya ingin apabila saya pindah perusahaan, saya bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang yang tidak jauh berbeda dari pekerjaan yang saya tekuni sekarang ini. Saya percaya Tuhan memanggil saya dalam bidang ini, untuk menjadi orang yang profesional dalam bidang yang saya tekuni sekarang. (J)

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Yeremia 29:11

Coklat Valentine


Sekarang sudah memasuki bulan kedua dari tahun 2008. Bulan Februari identik dengan bulan penuh cinta. Hmmm… konon katanya… hari raya Valentine jatuhnya tepat pada bulan ini, pada tanggal 14. Ada beberapa ritual khusus yang sering dilakukan untuk perayaan hari Valentine ini.
Saya jadi terkenang masa-masa SMP dan SMA. Kalau sudah masuk bulan Februari, seluruh sekolah sibuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan hari Valentine. Tidak terkecuali saya dan teman-teman. Kami sibuk memperbincangkan apa yang akan dilakukan pada tgl 14 Februari. Ada yang nyeletuk “Kencan dengan pasangan di sebuah restoran yang romantis”, ada juga yang bicara “Mau memberikan hadiah yang special untuk pasangan”. Wah wah wah, rasanya cinta menyebar pada setiap hati kita deh.
Kalau saya dan beberapa teman dekat, kita berpikir untuk membuat coklat atau membeli coklat atau bunga untuk dibagi-bagikan kepada teman-teman di kelas dengan ucapan selamat hari Valentine. Kadang kita saling berukar kartu Valentine saja. Pembagian dan pertukaran coklat atau kartu tersebut tidak terbatas hanya kepada teman laki-laki, tapi juga yang wanita, semua terlihat senang menerima pemberian tersebut, termasuk saya.
Memang, hari Valentine disebut-sebut sebgai hari kasih sayang dan identik dengan pasangan. Ada beberapa orang berpikir, kalau di hari Valentine masih men’jomblo’, rasanya tidak ‘asik’. Jadi, ada beberapa orang memanfaatkan momen Valentine ini untuk mengungkapkan rasa sayangnya kepada orang yang dia sayangi.
Namun, bukan hanya terbatas pada cinta kasih kepada orang lain yang harus saya mengerti dan pahami. Saya pun diingatkan untuk mengasihi Tuhan. Tuhan sudah mengasihi saya dengan mati di kayu salib. Dia sendiri adalah kasih seperti yang tertulis di 1 Yohanes 4:6 “Allah adalah kasih”. Kasih yang saya berikan kepada Tuhan tidaklah sebesar kasih yang Dia berikan, tapi saya mau belajar untuk mengasihi Dia.
Setelah saya mengasihi Tuhan, tentunya saya juga harus mengasihi sesama saya. Tetapi sebelumnya saya harus mengasihi diri saya terlebih dahulu. Bagaimana saya bisa mengasihi orang lain tapi diri saya sendiri saya tidak kasihi. Mengasihi diri saya sendiri bukan berarti saya harus egois, namun, mengasihi diri saya sendiri berarti saya harus bisa menerima diri saya apa adanya, seperti Tuhan menerima diri saya.
Lalu barulah saya mengasihi orang lain seperti saya mengasihi diri saya. Saya belajar untuk mengasihi orang lain seperti Tuhan mengasihi saya dan menerima diri saya. Memang sulit, apalagi orang lain itu berbeda dari diri saya, ada orang yang menurut saya ‘sulit’, ada orang yang menurut saya ‘aneh’, ada orang yang tidak saya mengerti, dll. Tapi semuanya harus saya kasihi seperti Tuhan memberikan perintah kepada saya.
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Matius 22 : 37-39

Foto *Click*



Tiap tahun saya mempunyai kebiasaan melihat-lihat album foto. Saya memiliki album foto yang berisi foto-foto saya dari kecil sampai saat ini. Kalau foto kecil saya, mama saya yang mengumpulkan dan menempelkannya di album foto. Kebiasaan ini berulang pada setiap akhir tahun, kira-kira pada bulan Desember.
Saya buka album foto saya yang pertama. Di dalamnya terdapat kumpulan foto saya selagi kecil. Lucu, mengemaskan. Ada beberapa tulisan yang menjelaskan situasi saat foto itu diambil, juga terdapat waktu kapan foto itu diambil. Saya tidak dapat mengingat masa kecil saya, dan album foto masa kecil saya ini sangat berguna untuk saya dapat mengetahui masa kecil saya seperti apa.
Dari foto-foto yang ada, saya dapat melihat saya melewati saat-saat bahagia, senang, gembira dan juga sedih. Bahagia, senang dan gembira pada saat saya merayakan ulang tahun saya yang pertama. Ada kue ulang tahun, banyak hadiah, banyak teman dan keluarga yang hadir. Ada juga saat sedih dimana saya difoto pada saat saya berada di rumah sakit, namun semua keluarga gembira pada saat saya sudah keluar dari rumah sakit.
Saya ambil album yang kedua. Album ini saya yang mengaturnya.Saya atur foto-fotonya mulai dari saya kecil sampai saya berumur kira-kira 15 tahun. Banyak perubahan yang terjadi di sekeliling saya. Saya pun melihat perubahan pada diri saya melalui foto-foto yang saya lihat. Ah, rasanya waktu tidak terasa.
Waktu terus berjalan, berjalan dengan cepatnya. Tidak terasa saya sudah menginjak umur dengan kepala ‘2’. Tidak terasa pula saya sudah berada di penghujung tahun 2007, dan sebentar lagi akan memasuki tahun 2008. Tahun baru akan dirayakan lagi. Saya termenung…….
Tahun demi tahun telah berlalu, banyak hal yang telah terjadi, banyak hal yang telah dilewati. Senang susah, gembira sedih, baik buruk. Namun saya sadar satu hal, yaitu Tuhan tidak pernah meninggalkan saya pada saat apapun juga. Dia selalu menyertai saya. Saya lalu berdoa, untuk tahun yang baru saya mau Tuhan tetap menyertai saya, saya juga ingin lebih dekat lagi dengan Tuhan dan saya mau hidup saya dipimpin oleh Tuhan. Selamat tahun baru semuanya. JBU
(J)

Antri Dong! Bebek Saja Bisa Antri!



Hari ini saya berada di pernikahan seorang teman. Pernikahan yang sederhana di restaurant biasa. Walaupun begitu, cukup meriah juga. Tamu banyak yang hadir, teman-teman juga. Seperti biasa, saya bercengkerama dengan beberapa teman, karena jarang kami jarang bertemu.

It's time to eat. Di pesta pernikahan makanan pasti terbagi menjadi 2, yaitu makanan prasmanan dan makanan pondokan (istilah yang sedikit aneh). Makanan prasmanan dikategorikan dalam makanan yang disajikan dalam satu meja panjang dengan berbagai macam masakan dan tentunya ada nasi, istilahnya makanan yang 'berat'. Makanan pondokan disajikan per booth/tenda, biasanya setiap booth akan menyediakan satu macam menu masakan; misalnya sate, dimsum, empek-empek, sup, dll.

Pastinya saya juga tidak ketinggalan untuk mengantri. Padahal baru saja MC bilang supaya makanan dibuka, tapi antrian sudah panjang. Terlebih lagi pada booth-booth yang menyediakan makanan yang hanya ditemui (tepatnya mumpung) pada saat pernikahan -seperti kambing guling atau bebek peking - antriannya sudah panjang sekali. Alhasil saya mendapat tempat cukup belakang dan setelah sampai depan makanannya sudah habis. Oh, wasting my time. Seharusnya bisa ngantri di booth lain. Sekarang kalau ngantri di booth lain sudah dapat di belakang juga. Kalau sudah begini saya memutuskan untuk melihat sekeliling, siapa tau ada booth yang sepi (biasanya si karena sudah habis atau makanannya kurang diminati) atau booth yang masih banyak makanannya lalu saya mengambil makanan dari booth tersebut.

Tapi oh tapi, sayang sekali pernikahan teman saya dicoreng dengan ulah beberapa orang. Saya sebut beberapa orang karena yang saya alami saja sudah tiga kali, mungkin ada kejadian lain lagi. Saya sedang mengantri di salah satu booth, cukup panjang memang, tapi makanan yang disediakan oleh pengantin cukup banyak, jadi rasanya masih bisa untuk antrian yang panjang tersebut. Tiba-tiba ada tiga orang wanita (sudah cukup tua juga) yang menyerobot di depan saya, mereka langsung mengambil piring dan dengan tidak bersalahnya mereka berdiri di depan saya. Ini kejadian yang pertama, ya sudah saya kasih, walaupun rada gondok tapi saya pikir mereka mungkin lapar (bisa aja mereka puasa dari pagi) atau mereka 'ndeso' belum pernah mencoba makanan tersebut.

Setelah itu saya mengantri di booth lainnya. Cukup panjang juga, tapi saya tetap mengantri dari urutan terakhir. Saya berpikir kalau tidak dapat ya sudah, bukan sesuatu yang harus disesali. Jiah (¬_¬˚) teteup aja ada yang nyelak (bahasa lain dari menyerobot), di depan saya lagi. Jujur aja mulai kesel, "haduhhhh! Pada gak tau sopan sopian, eh salah, sopan santun ya?!" Saya mendekatkan diri dengan orang di depan saya supaya orang tersebut tidak bisa masuk dan saya juga sempat bicara rada keras dengan saudara saya yang ikut antrin, "Sepertinya makanannya masih banyak. Pada takut kehabisan kali ya?" sambil lirik ke orang tersebut. Yaaahhhh tidak mempan juga ternyata, dia tetep nyerobot. Kali ini untungnya tidak di depan saya tapi di belakang saya, karena saya sudah mepet-mepet dengan orang di depan saya.

Setelah selesai makan makanan pondokan (pondokan cuma makan 3 menu ukuran kecil) saya beralih ke makanan prasmanan. Masih panjang juga antriannya tapi tidak sepanjang antrian di booth dan saya tetap ikut antrian. Saya berpikir kalau makanan prasmanan biasanya masih banyak. Ttttaaaaapppppiiiiii!!! Teteup aja ada yang nyerobot. Arrrkkhhhh! Parah! Antrian gak panjang, makanan masih ada. Takut apa sih? Apa salahnya ngantri? Apa mereka takut liat saya ya, takut makanan habis sama saya?? "Gak segitunya kaleee"

Geregetan deh lihatnya, apa ya yang ada dalam pikiran mereka menyerobot antrian supaya mendapat lebih dulu? Laper? Takut kehabisan? Norak? Ndeso? Tidak mau rugi? Halah, tidak jelas deh. Tapi kan itu budaya yang tidak baik banget. Orang lain sudah dengan sabar mengantri walaupun antriannya cukup panjang, tapi tiba-tiba ada yang main masuk antrian dan maunya mendapatkan lebih dulu, apa itu tidak membuat orang menjadi kesal?

Saya dulu pernah melakukan hal tersebut, namun seiring waktu saya sadar bahwa hal tersebut bukanlah budaya yang baik. Budaya yang baik adalah budaya yang tertib, salah satunya adalah mengantri. Dengan mengantri kita juga menciptakan suasana yang nyaman dan damai, karena tidak ada omelan dari orang-orang yang diserobot tempatnya.

Kalau sedang mengantri saya selalu ingat salah satu iklan layanan masyarakat yang terpampang di billboard. Ada beberapa bebek yang sedang berjalan beriringan menuju suatu tempat (lupa tempatnya apa) namun mereka berbaris rapi. Diatas gambar bebek tersebut tertulis kata-kata "Bebek saja bisa antri." Nah, bebek saja bisa antri kenapa kita tidak? Kita lebih berbudaya dan lebih mulia kok dari bebek.

31 Juli 2011
(J)

Minggu, 31 Juli 2011

Hmmm... Wangi.... Jadi Laperrrr......... ^^



Hmmmm... Wanggiiii...

Jadi laper lagi nih, padahal udah makan kenyang. Ihhh.. Padahal kan cuma nyium doank. Baru aja lewat di depan salah satu toko roti yang pembuatan rotinya dapat kita lihat secara langsung. Wangi roti yang baru saja selesai dipanggang. Haduuuhhh.. Kalau tiap hari kaya gini bisa tambah 'mengembang kekanan dan kekiri' deh nih bodi.

Ada spekulasi kalau salah satu toko roti yang terkenal memakai penyemprot 'parfum' bernuansa harumnya 'roti'. Hmmm.. Nulis ini aja jadi lapar juga, masih teringat sama harumnya roti yang baru saja keluar dari oven.

Saya sempat bingung, kenapa juga toko roti tersebut (kalau benar) harus repot-repot membeli penyemprot parfum bernuansa roti tersebut. Apa hubungannya antara indera penciuman dengan perut? Hayo siapa yang bisa jawab secara ilmiah? Saya tidak bisa, hanya bisa menjelaskan dari pengalaman saya sendiri.

Seperti tadi saya bilang, setelah saya mencium wangi tersebut, perut saya jadi berbunyi dan rasanya ingin sekali membeli roti tersebut. Yahhh.. Jangan sering-sering lewat deh, bisa-bisa jadi mau beli terus. Ternyata dari indera penciuman bisa menyampaikan pesan kepada perut. Tapi kayanya bukan hanya penciuman deh, tapi semua indera. Kalau indera penciuman, sudah dijelaskan ya..

Indera pendengaran. Kalau kita mendengar cerita dari teman mengenai makanan yang enak, mereka menjelaskan secara detil ditambah dengan 'bumbu-bumbu' yang memikat.. Dalam pikiran kita langsung terbayang makanan yang dijelaskan, ditambah dengan asap yang mengeprul-ngeprul kalau makanan tersebut dimakan panas-panas. Langsung sinyal disampaikan kepada perut bahwa kita mau makan makanan tersebut.

Indera penglihatan. Kenapa ada yang namanya "Food Photography"? Ya karena dari penglihatan, kita juga bisa merasa mau makan makanan tersebut. 'Memancing' pelanggan dengan indera penglihatan sudah menjadi hal yang wajib. Salah satunya saya. Saya? Ya saya, saya sering memotret makanan yang saya buat atau beli. Contohnya bisa dilihat di http://jess-creart.blogspot.com/ (monggo mampir), walaupun masih amatiran dan hasilnya gak bagus-bagus amat teteup itu hasil karya sendiri. Malah saya sering merasa lapar juga melihat hasil foto makanan saya sendiri.

Indera pengecap. Kalau ini paling mantap nih. Setiap orang pasti mau banget termasuk saya. Rasanya indera yang satu ini yang paling ampuh untuk menjual makanan. Karena makanan berhubungan erat dengan indera pengecap ini. Setiap kita makan haruslah menggunakan mulut dan indera pengecap kita ada di lidah yang berada di dalam mulut. Kalau saya menjual kue saya, pasti pada minta sempel (sample, Eng.; kue contoh, Indo). Kadang ada yang keterlaluan, cuma minta sempel terrruusss.. Ini mah namanya terrr-laaa-luuu kata Bang Roma.

Indera peraba. Ini yang jarang digunakan, tapi tetap saja ada pengaruhnya. Misalnya aja kita membeli makanan, kita pasti meraba mangkuknya, panas atau dingin. Atau bisa juga kita memesan makanan yang belum pernah kita makan, kita kemungkinan akan meraba makanan tersebut.

Intinya, semua indera jasmani kita (kec. Indera keenam) bisa memberikan sinyal kepada perut kita. So.. Pergunakan indera kita dengan baik supaya yang masuk ke perut itu cukup dan bukan hanya yang kita ingin. Wah, kalau nurutin keinginan mah saya mungkin sudah sangat-sangat gendut (sekarang aja udah lebar, hahahaha), habisnya semua mau aja dimakan. ^^